Home
DUE AUDIT CARE
Written by Joachim Sulistyo & Rekan   


Auditor sebagai salah satu profesi yang diakui keberadaannya mempunyai tanggung jawab atas keprofesionalannya. The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) menetapkan berbagai regulasi maupun standar yang harus dilaksanakan para auditor dalam rangka memenuhi pertanggungjawabannya. Beberapa publikasi AICPA tersebut antara kode etik profesional akuntan, standar auditing, dan kodifiksi statement atas prosedur audit. Kode etik profesi merupakan pedoman untuk mengevaluasi kinerja profesional akuntan publik dan tanggung jawab auditor. Standar auditing adalah pedoman untuk mengevalusi kinerja profesional akuntan publik, persyaratan pendidikan, pengalaman, dan keahlian yang harus dipenuhi.


Sementara kodifikasi statement atas prosedur audit merupakan instruksi-instruksi tertentu atau amandemen untuk mengeliminasi statement (paragrap) yang berdasarkan prosedur audit yang telah dilakukan, disajikan dengan tidak wajar.   Tanggung jawab auditor dalam menjalankan pekerjaannya adalah mendeteksi irregularities (penyimpangan) atas asersi-asersi yang dilaporkan manajemen. Dalam hal ini konsep materialitas sangat penting untuk dijadikan pedoman. Namun perbedaan antara material dan immaterial nampaknya tidak bisa dilihat secara tegas. Penyimpangan ini bisa terjadi karena ada unsur kesengajaan atau memang tidak disengaja. Auditor dituntut untuk bisa menemukan penyimpangan ini.  

Besarnya penyimpangan ini sebetulnya bisa dikurangi dengan pengendalian intern (internal control) yang efektif meskipun sebetulnya tidak menjamin bisa mencegahnya. Kelemahan suatu sistem pengendalian intern (SPI) juga memicu terjadinya penyimpangan yang dengan leluasa dilakukan berulang-ulang. Jika SPI lemah maka risiko pengendalian akan tinggi, yang secara otomatis akan mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Hal ini karena laporan keuangan merupakan output dari suatu sistem akuntansi yang didukung oleh desain internal control tertentu yang lemah.  Akibatnya beberapa akun di neraca maupun laporan rugi laba cenderung disajikan overstatement atau understatement. Beberapa praktek penyimpangan ini dilakukan secara terbuka atau mungkin dengan sembunyi-sembunyi (manipulasi catatan atau dokumen). Auditor dituntut bisa mendeteksi penyimpangan-penyimpangan seperti ini. Tingkat material tidaknya suatu penyimpangan sebetulnya berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai atas pekerjaan audit tersebut. Tidak ada ukuran yang baku untuk menilai suatu materilaitas.  

Sebetulnya ditemukan tidaknya suatu penyimpangan juga dipengaruhi oleh fee audit. Fee ini menentukan efektifitas prosedur audit yang dilaksanakan. Namun auditor mempunyai tanggung jawab sosial kepada publik untuk bisa mendeteksi dan menemukan penyimpangan. Hal ini tidak bisa dihindari karena sudah merupakan tuntutan profesi. Auditor seharusnya bisa mengumpulkan bukti audit yang cukup untuk bisa menemukan kecurangan ini. Bukti audit (evidence) ini menjadi dasar dalam membuat kesimpulan atas penyimpangan yang ditemukan.

  

Konsep Due Audit Care.

Konsep ini merupakan pedoman dalam penyelidikan adanya penyimpangan yang mungkin terjadi dan memberikan perlindungan terhadap klien atas kecermatan dan kehati-hatian auditor. Terdapat dua bagian utama, yaitu asumsi terciptanya prudent practitioner dan sikap penuh ketelitian dan hati-hati. Prudent man berhubungan dengan tingkat skill yang bisa digunakan sebagai ukuran kualitas kinerja seseorang. Dalam kaitannya dengan auditing, the prudent auditor berhubungan dengan tanggung jawab auditor independen untuk mendeteksi penyimpangan dengan kecermatan, ketelitian, dan kehati-hatian yang tinggi.

Beberapa pedoman yang bisa dijadikan bahan pertimbangan antara lain:

  • Adanya pengetahuan yang memadai dalam mengevaluasi efektifitas internal control.

  • Perhatian terhadap risiko tertentu akibat penyimpangan berdasarkan pengalaman audit dan sejarah perusahaan yang diuji. 

  • Mempertimbangkan keadaan-keadaan tertentu dalam membuat perencanaan audit.

  • Memahami betul kemungkinan terjadinya situasi yang unfamiliar.

  • Adanya kemampuan untuk mengubah ke dalam opini atas suatu pemahaman terhadap masalah-masalah yang mungkin belum terjawab.

  • Kompetensi yang terus dikembangkan sehingga mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang teknik mendeteksi penyimpangan.

  • Review terhadap pekerjaan para asisten yang dilakukan dengan cermat. 


Due Audit Care dan Review Internal Control

Pada dasarnya tingkat efektifitas suatu SPI akan menentukan besar kecilnya tingkat penyimpangan. Semakin efektis SPI kemungkinan akan semakin memperkecil penyimpangan. Penyimpangan ini selalu mungkin terjadi. Bagaimana suatu SPI dikatakan baik sulit untuk diberi batasan karena orang yang membuat dan yang mengoperasikan sistem ini pada umumnya tidak dipisahkan secara tegas.  

Auditor harus mengevalusi SPI dan memperoleh kesimpulan apakah SPI-nya efektif atau lemah dalam melindungi perusahaan. Beberapa karakteristik SPI antara lain: 1) Hak dan kewajiban setiap anggota organisasi ditetapkan dengan jelas. 2) Berbagai data operasi dan keuangan mampu disediakan dengan tepat waktu. 3) Semua transaksi yang terjadi seharusnya didasarkan atas otorisasi sehingga bisa dipertanggungjawabkan. 4) Adanya penghargaan terhadap pegawai yang berprestasi dan penggantian (temporer atau permanen) terhadap pegawai yang tidak mampu. 5) Meminimumkan risiko kehilangan asset dan catatan.  

Metode untuk mereview efektifitas SPI didasarkan atas konsep due audit care (pudent practitioner dan ketelitian penuh kehati-hatian). Berbagai teknik auditing bisa diterapkan misalnya pengujian dokumen, review buku pembantu, tracing, dan sebagainya. Dalam pengembangan program pengujian lebih lanjut, auditor harus mempertimbangkan efektifitas SPI ini.  

Dalam membuat laporan hasil audit seharusnya auditor independen ini membuat penjelasan atau komentar terhadap efektifitas SPI. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab auditor atas penugasan yang diberikan klien kepadanya. Auditor perlu memofikasi program auditnya setelah mengetahui tingkat efektifitas SPI yang disimpulkan.  


 

 

Latest Article

Stop
Play
Free Joomla Templates by JoomlaShine.com